Dalam Tafakurku

Ketika aku mohon kekuatan,
Allah memberiku kesulitan hingga aku kuat.

Ketika aku mohon kebijaksanaan,
Allah memberiku masalah untuk aku pecahkan.

Ketika aku mohon kesejahteraan,
Allah memberiku akal untuk berpikir.

Ketika aku mohon keberanian,
Allah memberi bahaya untuk aku atasi.

Ketika aku memohon pengampunan dosa,
Allah memberiku rasa sakit sebagai penggugur dosa.

Ketika aku memohon surga,
Allah menghujaniku dengan ujian-ujian.

Aku Tak Pernah Menerima Apa Yang Ku Minta,
Tapi Aku Menerima Yang Aku Butuhkan.

Subhanallah….

Ana Uhibbuka Fillah

NamaNya belum tereja…
WajahNya belum beranjak semu…
BayanganNya belum terlukis…
DerapNya belum turut serta ku ikuti…
Penantian ku telah terasing karenaMu…
Zawjun Soolihun…
SuaraNya belum kuhafal…
Sebuah hatiNya belum terbaca…
SenyumNya belum aku tafsirkan…
KerlinganNya belum aku temukan…
Maka, biar sajak asa tertunai tanpa
permintaan…
TawaNya belum kusentuh…
TangisNya belum terseka…
DukaNya belum turut ku genggam…
PenatNya belum terbagi denganku…
Allah yubarik fik ya akhi…
JejakNya belum aku kenali…
KeningNya belum terkecup tulusku…
TubuhNya belum terpeluk olehku…
Bahu kokohNya belum terebahkan ragaku…
Harapku… semoga takdir indah itu ada…
Desir hatiNya belum terjamah rasa…
Rajutan kenangNya belum terukir jelas…
Tautan rinduNya belum menetap lama…
Diantara gurauNya belum terpahat
ditengah beku…
Dengarlah… ku menjaga setiaku demi Mu…
Keturunan Adam pilihan Allah
Terhampar semu dalam angan
Dingin dan sepi belum terjemahkan
Semoga nyata menjadi bahagiaku
Biar muram rela luruh dalam senjaMu
Meski khayal belum terekam…
Meski tatapan belum terjawab…
Meski letak nafas belum tersadari…
Meski pemilik denyut itu belum teraba olehku…
Namun ku tetap merantaikan rindu…
Meski degubMu belum terdengar jiwaku…
Meski setiaMu belum abstrak terurai…
Meski jujurMu belum menyapa relungku…
Meski lerai bisikMu belum melekat dalam
kalbu…
Namun, ku tetap bermain dalam jengkalku…
Meski untaian rinduMu belum terpijak riuh…
Meski pesonaMu belum nyata memikatku…
Meski dentingan hatiMu belum terlihat olehku…
Meski gema rinduMu belum keras terngiang…
Jangan hentikan langkah mencariku…
Sekat larik cintaMu dalam ruas batinku…
Jaga sentuhMu demi masa yang lebih tepat…
Biarkan ku menjadi ruang luasMu…
Dengan taburan cahaya tanpa ujung…
Dalam keterbatasan… ku menunggu halalMu…
Tanpa secuil sisa cinta
Yang tenang dan terkubur lama
Ana Uhibbuka Fillah…
Atammannaka Fillah…
Istaqtu Ilayka Fillah….
Innaniy Antazhiruka Fillah…
*Allahumma Inni As Aluka Hubbaka Wahubba Maa Yuhibbuka Wal Amalalladzii Yuballighunii Hubbaka…** (Ya Allah… sesungguhnya aku memohon kepadaMu untuk tetap mencintaiMu dan cintanya orang yang mencintaiMu serta beramal yang bisa menyampaikan kepadaku untuk
mencintaiMu. ..)*
*Allahummab’ ats Ba’lan Shalihan Likhithbati Wa Aththif Qalbahu Alayya Bihaqqi Kalamikal Qadimi Wa Bi Rasulukal Karimi Bi Alfi Alfi La Hawla Wa La
Quwwata Illa Billahil Aliyyil Azhim Wa Shallallahu Ala Sayyidina Muhammadin Wa’ Ala Alihi Wa Shahbihi Wa Sallama Wal Hamdulillahi Rabbil Alamin…*

Dikutip dari

Mengembalikan Kejayaan Umat Islam

Kejayaan Islam dan umatnya adalah harapan yang harus ada dalam benak semua orang yang benar-benar beriman kepada Allah Ta’ala dan hari kemudian. Karena di antara perkara yang bisa membatalkan keislaman seseorang adalah merasa senang dengan kejatuhan dan kemunduran agama Islam dan justru tidak mengharapkan kejayaan dan ketinggian Islam tersebut. Sebagaimana termasuk konsekwensi keimanan seorang muslim adalah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh saudaranya sesama muslim, dengan turut merasa prihatin dan berduka atas semua penderitaan yang mereka alami, kemudian berusaha membantu meringankan beban mereka, minimal dengan berdo’a, serta berusaha mencari jalan keluar terbaik untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam kecintaan dan kasih sayang di antara mereka adalah seperti satu badan, jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh (anggota) tubuh lainnya ikut merasakan (sakit tersebut) karena susah tidur dan demam[1]. Dalam hadits shahih lainnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah sempurna keimanan seseorang sampai dia menyukai (kebaikan) untuk saudaranya (sesama muslim) sebagaimana dia menyukai (kebaikan tersebut) untuk dirinya sendiri[2].

Bukan merupakan rahasia lagi, apa yang kita dengar dan saksikan pada jaman sekarang ini, yaitu kondisi yang memprihatinkan dan penderitaan yang menimpa kaum muslimin di berbagai penjuru dunia saat ini, berupa penindasan, penganiayaan, penghinaan dan lain-lain. Semua ini seolah-olah mengesankan bahwa agama Islam ini bukanlah agama yang tinggi dan mulia, dan tidak adanya pertolongan dari Allah Ta’ala kepada kaum muslimin, sehingga mereka tidak memiliki daya dan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh mereka.

Padahal dalam banyak ayat Al Qur’an, Allah Ta’ala menegaskan bahwa ketinggian, kemuliaan dan kejayaan serta pertolongan dari-Nya hanyalah peruntukkan-Nya bagi agama-Nya yang benar dan bagi orang-orang yang berpegang teguh dengan agama ini.

Continue reading